Minggu, 08 Mei 2011

DRAMA TARI


  • Drama tari traditional Bali

Salah satu jenis seni di Bali yang masih digemari oleh masyarakat Bali adalah Arja, jenis seni ini termasuk berbentuk teater. Bagaimana sesungguhnya teater ini memperoleh penamaannya tidak begitu diketahui, tetapi dugaan adalah dari ungkapan bahasa Sansekerta “reja” yang kemudian mendapat awalan “a” sehingga menjadi “areja” dan akhirnya berubah menjadi Arja yang berarti keindahan atau mengandung keindahan. Ungkapan inilah yang hingga saat ini digunakan untuk menamakan bentuk teater Arja seperti yang kita lihat sekarang.
Sebagai suatu bentuk teater Arja merupakan seni teater yang sangat kompleks karena merupakan perpaduan dari berbagai jenis kesenian yang hidup di Bali, seperti seni tari, seni drama, seni vokal, seni instrumentalia, puisi, seni peran, seni pantomim, seni busana, seni rupa dan sebagainya. Semua jenis seni yang bersatu dalam Arja dapat saling menyatu dan padu, sehingga satu sama lain tidak saling merugikan.
Perpaduan ini amat menyatu dan padu, seperti halnya seni suara yang bertangga nada slendro/pelog menjadi tembang yang sangat merdu dan menarik, sedangkan sebagai pendukung dan penagasan ceritera dilakukan melalui monolog dan dialog.
Sesungguhnya Arja adalah perpaduan antara dua pendukung teater, yaitu gagasan yang datang dari para pendukung (pemain) dan penonton.
Sebagai suatu bentuk total teater, Arja ini sangat komunikatif dengan masyarakat penikmatnya. Untuk daerah Bali hal ini tidak mengherankan karena memang demikian adanya, sebagaimana dengan berbagai bentuk kesenian lainnya. Yang sangat unik adalah keterlibatan penonton dengan teater di Bali. Penonton sejak mulai pertunjukan seolah-olah sudah menentukan keberhasilan suatu pertunjukan melalui sikap yang mereka lakukan sebagai reaksi atas ungkapan yang dilontarkan pemain atau pelakon saat mereka bermain.
Dari perkembangan selama ini dapat dikatakan bahwa Arja masih sangat populer di masyarakat Bali, seperti dapat dilihat pada kemaunan masyarakat untuk berbondong-bondong meramaikan festival yang diadakan setiap tahun hingga saat ini.
Secara sepintas maka dapat dikatakan bahwa Arja di Bali masih tersebar di banyak wilayah, seperti Bangli, Klungkung, Gianyar, Anlapura, Badung, Tabanan, Jembrana, hingga Singaraja.
Arja diduga berkembang sejak sekitar tahun 1814, yaitu pada pemerintahan I Dewa Gde Sakti di Puri Klungkung, saat diadakannya upacara Pelebon yang dilakukan oleh I Gusti Ayu Karangasem. Upacara Pelebon besar-besaran ini dihadiri oleh berbagai kalangan, termasuk raja-raja seluruh Bali. Pada saat itu atas prakarsa I Dewa Agung Mangis asal Gianyar dan Dewa Agung Jambe digelarkan untuk pertama kalinya Arja.
Ketika itu Arja dikenal dengan nama Dadap dan lakon yang dipertunjukkan adalah Limbur. Dadap adalah nama sejenis pohon dan juga berarti perisai. Pohon Dadap adalah kayu sakti, sebagai lambang pembersihan atau alat penyucian yang harus ada dalam setiap upacara di Bali.
Tiga fase penting dalam perkembangan Arja adalah:
munculnya Arja Doyong (Arja tanpa iringan gamelan, dimainkan oleh satu orang).
Arja Gaguntangan (yang memakai gamelan Gaguntangan dengan jumlah pelaku lebih dari satu orang).
Arja Gede ( yang dibawakan oleh antara 10 sampai 15 pelaku dengan struktur pertunjukan yang sudah baku seperti yang ada sekarang).
Waktu itu Arja digelar dengan tata cara wayang lemah untuk upacara pelebon, dengan memakai dahan dadap sebagai tiang kelir. Sejalan dengan wayang lemah maka tokoh-tokoh Arja pun dibagi menjadi dua golongan, yaitu golongan yang baik dan yang buruk.
Tembang Arja adalah tembang Lelawasan, sejenis kidung atau tembang Gambuh. Arja tidak menggunakan gamelan dan semua tokoh diperankan oleh pria, sehingga di Singaraja dan Gianyar disebut Arya Doyong.
Menurut mereka yang mengetahui, sejak itu Arja menyebar ke seluruh Bali.
Menurut fungsinya Arja digolongkan ke dalam kelompok Tari Balih-balihan. Sebagai suatu bentuk teater Arja dipengaruhi oleh Gabuh dan mempunyai uger-uger atau pola yang mencerminkan zaman Puri.
Arja menyajikan ceritera kerajaan dan perwatakannya sangat diperngaruhi oleh adanya kasta. Arja berfungsi sebagai hiburan bagi masyarakat yang berperan serta dalam berbagai upacara keagamaan, kemudian juga berkembang untuk kepentingan amal, hiburan di pasar malam dan kepentingan lainnya.
Sebagai suatu pertunjukan Arja mempunyai makna juga untuk pendidikan. Biasanya masyarakat sesudah menonton Arja berhari-hari akan menirukan nyanyian dan lelucon yang ditampilkan oleh kelompok yang baru saja mereka lihat. Gerakan-gerakan lucu atau ungkapan tentang kejadian-kejadian yang menggelitik akan mereka ulangi dalam pergaulan sehari-hari. Dengan demikian Arja merupakan suatu medua komunikasi yang sangat ampuh untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan.
Ceritera-ceritera Arja sangat beragam, dari Ceritera Panji, Ceritera Rakyat, Ceritera Mahabarata, Ramayana dan sebagainya berkembang sampai ceritera-ceritera keseharian, semuanya dapat dijala dan dijalin menjadi suatu pertunjukan yang sekaligus seni, yang dapat membuat orang sejenak melupakan segala permasalahan keluarga, pekerjaan dan lainnya yang dialami pada siang hari sebelumnya.
Sebagaimana seni lainnya di Bali, sebelum suatu pertunjukan dimulai biasanya diadakan suatu upacara selamatan untuk kepentingan para pemain, penabuh dan semua kalangan yang tersangkut dengan acara pertunjukan itu.
Dalam perkembangannya Arja mengenal semacam penyutradaraan. Tokoh yang menjadi pengarah ini seringkali merupakan juga pengajar tari, tembang dan gamelan, selain pengarang tembang yang akan digunakan. Pada umumnya ia akan mengarang dan menyusun tembang itu sesuai yang diinginkan menurut lakon dan jalan ceritera yang akan dipentaskan.
Tokoh-tokoh utama arja yang selslu ada adalah Inya, Galuh, Desak (Desak Rai), Limbur, Liku, Panasar, Mantri Manis, Mantri Buduh dan dua pasang punakawan atau Panasar kakak beradik yang masing – masing terdiri dari Punta dan Kartala. Tokoh-tokoh ini memiliki watak sendiri yang sering sekali memberi hiburan yang lebih untuk masyarakat yang menontonnya. Misalnya seperti Punta dan Kartala, Kartala adalah tokoh yang bersifat agak sombong dan sering sekali merendahkan orang, sedangkan Punta orang yang polos tetapi pintar dan licik sebenarnya. Duet ini sering sekali membuat kita tertawa. selain itu kekonyolan dari Desak rai, liku dan Libur juga sangat menyenangkan dan menarik.
dimulai dari abad ke 20. Timbullah suatu inovasi baru di arja. Dimana semua pemeran arja adalah pria. bahkan tokoh yang wanita pun dimainkan oleh pria. ini menjadi keunikan sendiri dan sungguh menghibur. Arja ini sering di sebut Arja Muani
Igel pepesan, yakni gerak permulaan pada saat munculnya ke pentas adalah suatu kekhasan yang dimiliki oleh setiap pemeran dalam Arja. Kemudian pemeran akan mulai dengan igel pencerita dengan memperkenalkan diri kepada penonton. Bahasa yang digunakan oleh para pemeran sangat bervariasi, menurut kedudukan si pemeran. Misalnya para pemeran tokoh raja menggunakan bahasa Jawa Tengahan atau bahasa Bali Halus, yang biasanya kemudian diterjemahkan oleh para panakawan ke dalam bahasa Bali keseharian.
Vokal di Arja dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tembang yang berupa tembang macapat yang dalam baitnya terdiri atas guru wilang, jumlah baris, suku kata, serta dingdong pupuh dan akhir suku kata.
Dalam tembang macapat baris dan melodi sangat diutamakan dan tembang-tembang itu lebih bersifat lirik-lirik daripada epik.
Kemudian ada adegan yang terdiri atas monolog dan dialog yang biasanya merupakan ucapan pemuji, lelucon dan sebagainya didukung oleh nada yang tinggi dan rendah sesuai dengan watak yang diwakilinya.
Busana yang digunakan dalam Arja menjadi sangat penting karena menjadi penunjuk atau merupakan identitas pemeran atas tokoh yang diwakilinya. Busana yang digunakan setiap pemeran akan sangat mendukung kebebasan gerak dalam memerankan tokohnya. Sedangkan tata rias lebih bersifat dukungan terhadap watak yang diwakili oleh setiap pemeran.
Musik lebih mengutamakan tembang dan melodrama. Gamelan Arja disebut Gamelan Gegentungan, namun dalam perkembangannya Arjan juga diiringi dengan gamelan gong. Sedangkan laras yang digunakan adalah slendro dan pelog, sesuai dengan tembang yang digunakan.
Tempat pertunjukan Arja disebut kalangan, sehingga penonton dapat menikmati pertunjukan dari berbagai jurusan semua merupakan arena. Kalangan ini di satu sudut dilengkapi dengan sebuah rangki, yakni bagian yang ditutup/dibatasi, tempat para pemain mempersiapkan diri sebelum janur, lamak-lamak, bunga-bunga sebagai hiasan. Kalangan ini berukuran kira-kira 10 x 6 meter, meski pada umumnya disesuaikan dengan tempat yang tersedia. Zaman dulu, sebelum ada listrik, digunakan sejenis oncor, kemudian beralih kepada stormking atau petromaks.


  • Wayang Wong Drama Tari Ritual Kenegaraan di Keraton Yogyakarta

Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu kota pariwisata di Indonesia yang menjadi tujuan wisatawan yang berasal dari luar maupun dalam negeri. Daya tarik yang utama adalah unsur-unsur budaya tradisional yang masih tetap terjaga dan melekat pada setiap lapisan masyarakat, khususnya di wilayah Yogyakarta. Sesuai dengan namanya Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh kota-kota yang lain. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya keraton sebagai institusi non-formal yang memiliki peran besar dalam melestarikan dan menjaga nilai-nilai tradisi masyarakat Jawa.
Ketika kerajaan Mataram pecah menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta pada Perjanjian Giyanti tahun 1755, dan kemudian pada tahun 1757 Kasunanan Surakarta pecah lagi menjadi Kasunanan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran, satu bentuk dramatari baru bernama wayang wong dicipta di dua istana, yaitu keraton Yogyakarta dan pura Mangkunegaran. Lahirnya wayang wong di kedua istana itu kemungkinan besar disebabkan oleh perkembangan kesusasteraan yang sangat pesat pada tengah abad ke-18, yang banyak di antaranya merupakan gubahan-gubahan yang berpijak pada ceritera-ceritera Jawa Kuna yang bersumber pada wiracarita Mahabarata. Di keraton Yogyakarta sejak jaman Sultan Hamengku Buwana I (1755—1792) sampai Sultan Hamengku Buwana VIII (memerintah 1921—1939) wayang wong menjadi salah satu pusat perhatian dari para sultan.
Wayang wong Yogyakarta diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwono I pada sekitar tahun 1756. Pertunjukan ritual kenegaraan ini berlangsung secara megah sampai dengan tahun 1939. Dalam Disertasinya, R.M. Soedarsono telah berhasil membuktikan bahwa Wayang Wong di Keraton Yogyakarta tidak sekedar berfungsi sebagai pertunjukan akbar di Istana. Tetapi berfungsi sebagai menambah legitimasi kehadiran raja di atas tahta. Lakon yang diangkat selalu menggambar kesuburan (lakon perkawinan) atau kemenangan kebaikan melawan kejahatan (lakon peperangan). Pertunjukan berlangsung hingga empat hari dan dipergunakan untuk memperingati hari-hari tertentu yang berkaitan dengan kehidupan raja atau istana.
Bangsal Kencana merupakan tempat tempat para pejabat tinggi negara menghadap raja. Pertunjukan dimulai pada jam enam menunjukkan bahwa pertunjukan kepada dewa matahari. Dalam kehidupan Jawa dianggap sebagai Dewa Surya yang identik dengan Dewa Wisnu sebagai pemelihara Dunia. Adapun gelar Sultan Hamengku Buwono juga memiliki gelar yang berarti penguasa dunia. Pada saat pertunjukan, Sultan melakukan penghormaan kepada Wisnu yang tak lain adalah dirinya sendiri. Hal ini berkaitan dengan konsepsi Jawa mengenai Ratu Gung Binatara yang berarti Raja Agung yang didewakan.
Pertunjukan wayang wong di keraton Yogyakarta adalah ritual kenegaraan yang dipergelarkan untuk kemakmuran negara. Pergelaran ini selalu dihadiri oleh para kawula¬-Dalem, yaitu rakyat Yogyakarta. Dengan menyaksikan pergelaran wayang wong di keraton, rakyat akan menerima percikan dari berkah-Dalem, yaitu restu dari Sultan. Maka tak mengherankan apabila pada setiap hari pertunjukan, tak kurang dari 30.000 rakyat Yogyakarta menyaksikan pergelaran ritual itu. Maka dari itu wayang wong telah menjadi pusaka keraton Yogyakarta, yaitu pertunjukan sakral yang diwariskan dari Sultan Yogyakarta yang pertama dan terbesar. Selain itu, penyelenggaraan pertunjukan wayang wong yang semakin lama semakin menjadi mewah dan megah, sebenarnya merupakan upaya Sultan untuk menampilkan kebesarannya sebagai ratu gung binathara kepada rakyat, walaupun dalam bidang politik, judisial, dan keamanan kekuasaannya sangat dibatasi oleh pemerintah Belanda (R.M. Soedarsono, 1990).


  • Sendratari Ramayana, Drama dalam Tarian Khas Jawa

Visualisasi mengagumkan dari epos legendaris dalam kebudayaan Jawa, Ramayana. Dipentaskan di panggung terbuka, Sendratari Ramayana mengajak anda menikmati cerita dalam rangkaian gerak tari khas Jawa yang diiringi musik gamelan.
Sendratari Ramayana, Drama dalam Tarian Khas Jawa
Sendratari Ramayana adalah seni pertunjukan yang cantik, mengagumkan dan sulit tertandingi. Pertunjukan ini mampu menyatukan ragam kesenian Jawa berupa tari, drama dan musik dalam satu panggung dan satu momentum untuk menyuguhkan kisah Ramayana, epos legendaris karya Walmiki yang ditulis dalam bahasa Sanskerta.
Kisah Ramayana yang dibawakan pada pertunjukan ini serupa dengan yang terpahat pada Candi Prambanan. Seperti yang banyak diceritakan, cerita Ramayana yang terpahat di candi Hindu tercantik mirip dengan cerita dalam tradisi lisan di India. Jalan cerita yang panjang dan menegangkan itu dirangkum dalam empat lakon atau babak, penculikan Sinta, misi Anoman ke Alengka, kematian Kumbakarna atau Rahwana, dan pertemuan kembali Rama-Sinta.
Seluruh cerita disuguhkan dalam rangkaian gerak tari yang dibawakan oleh para penari yang rupawan dengan diiringi musik gamelan. Anda diajak untuk benar-benar larut dalam cerita dan mencermati setiap gerakan para penari untuk mengetahui jalan cerita. Tak ada dialog yang terucap dari para penari, satu-satunya penutur adalah sinden yang menggambarkan jalan cerita lewat lagu-lagu dalam bahasa Jawa dengan suaranya yang khas.
Cerita dimulai ketika Prabu Janaka mengadakan sayembara untuk menentukan pendamping Dewi Shinta (puterinya) yang akhirnya dimenangkan Rama Wijaya. Dilanjutkan dengan petualangan Rama, Shinta dan adik lelaki Rama yang bernama Laksmana di Hutan Dandaka. Di hutan itulah mereka bertemu Rahwana yang ingin memiliki Shinta karena dianggap sebagai jelmaan Dewi Widowati, seorang wanita yang telah lama dicarinya.
Untuk menarik perhatian Shinta, Rahwana mengubah seorang pengikutnya yang bernama Marica menjadi Kijang. Usaha itu berhasil karena Shinta terpikat dan meminta Rama memburunya. Laksama mencari Rama setelah lama tak kunjung kembali sementara Shinta ditinggalkan dan diberi perlindungan berupa lingkaran sakti agar Rahwana tak bisa menculik. Perlindungan itu gagal karena Shinta berhasil diculik setelah Rahwana mengubah diri menjadi sosok Durna.
Di akhir cerita, Shinta berhasil direbut kembali dari Rahwana oleh Hanoman, sosok kera yang lincah dan perkasa. Namun ketika dibawa kembali, Rama justru tak mempercayai Shinta lagi dan menganggapnya telah ternoda. Untuk membuktikan kesucian diri, Shinta diminta membakar raganya. Kesucian Shinta terbukti karena raganya sedikit pun tidak terbakar tetapi justru bertambah cantik. Rama pun akhirnya menerimanya kembali sebagai istri.
Anda tak akan kecewa bila menikmati pertunjukan sempurna ini sebab tak hanya tarian dan musik saja yang dipersiapkan. Pencahayaan disiapkan sedemikian rupa sehingga tak hanya menjadi sinar yang bisu, tetapi mampu menggambarkan kejadian tertentu dalam cerita. Begitu pula riasan pada tiap penari, tak hanya mempercantik tetapi juga mampu menggambarkan watak tokoh yang diperankan sehingga penonton dapat dengan mudah mengenali meski tak ada dialog.
Anda juga tak hanya bisa menjumpai tarian saja, tetapi juga adegan menarik seperti permainan bola api dan kelincahan penari berakrobat. Permainan bola api yang menawan bisa dijumpai ketik Hanoman yang semula akan dibakar hidup-hidup justru berhasil membakar kerajaan Alengkadiraja milik Rahwana. Sementara akrobat bisa dijumpai ketika Hanoman berperang dengan para pengikut Rahwana. Permainan api ketika Shinta hendak membakar diri juga menarik untuk disaksikan.
Di Yogyakarta, terdapat dua tempat untuk menyaksikan Sendratari Ramayana. Pertama, di Purawisata Yogyakarta yang terletak di Jalan Brigjen Katamso, sebelah timur Kraton Yogyakarta. Di tempat yang telah memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) pada tahun 2002 setelah mementaskan sendratari setiap hari tanpa pernah absen selama 25 tahun tersebut, anda akan mendapatkan paket makan malam sekaligus melihat sendratari. Tempat menonton lainnya adalah di Candi Prambanan, tempat cerita Ramayana yang asli terpahat di relief candinya.


  • Drama Tari Gambuh Berlinang Air Mata

Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar
Drama tari Gambuh adalah mata air seni pertunjukan Bali. Para peneliti dari Barat seperti Walter Spies dan R. Goris dalam karangannya yang berjudul “Overzicht van Dans en Tooneel in Bali” (1937) menyebut drama tari ini oertype van alle tooneel on alle muziek (asal atau sumber dari drama dan gamelan yang ada di Bali). Tetapi kini semakin sulit menjumpai pementasan seni pertunjukan kebesaran zaman kejayaan keraton Bali tersebut. Ternyata, jika diteliksik, agaknya drama tari ini telah lama tersungkur. Para seniman pegiatnya kian langka. Masyarakat Bali masa kini seperti tak memiliki relasi kultural dan subyektifitas estetik lagi dengan teater sepuh Gambuh.
Namun, Minggu (19/12) siang lalu, sebuah ritual keagamaan di Desa Bona, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, berhasil menghadirkan pementasan drama tari Gambuh. Menariknya, teater Gambuh yang disimak asyik penonton dalam suasana religius-komunal itu, dibawakan oleh para seniman muda, baik para penari maupun penabuhnya. Adalah para mahasiswa dan dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yang ngayah dengan penuh kesungguhan mementaskan kesenian langka tersebut. Berorientasi dari sebuah episode cerita Panji yang memang lazim diangkat dalam Gambuh, penonton dapat menyaksikan keagungan seni pentas bergengsi era feodalisme Bali itu yang kini berteduh dalam payung ritual keagamaan.
Pada era keemasan raja-raja Bali, khususnya pada masa Dalem Waturenggong (1416-1550), tari Gambuh adalah seni pertunjukan prestisius kesayangan seisi istana. Hampir setiap puri di Bali memiliki panggung khusus untuk pagelaran Gambuh yang disebut bale pegambuhan. Para seniman Gambuh yang menonjol direkrut menjadi seniman istana dan diberi status sosial yang terhormat. Namun ketika kolonialisme kemudian menggedor Bali yang menggerogoti kekuasaan kaum bangsawan, Gambuh limbung tanpa ampun. Sekarang, seni pertunjukan yang diduga berasal dari Majapahit dan jejak-jejaknya sudah muncul di Bali saat pemerintahan Udayana pada abad ke-11 ini, hanya dapat dipergoki bila ada upacara keagamaan yang dianggap penting, seperti yang diselenggarakan masyarakat Desa Bona tersebut.
Beruntung, di Desa Batuan, Sukawati, Gianyar, kini teater Gambuh masih diusung oleh masyarakatnya. Dalam bingkai sosial adat dan ritual keagamaan, seni pertunjukan ini cukup bernafas normal. Pun Gambuh gaya Pedungan yang telah kehilangan maestronya, I Gede Geruh, kini dengan segala daya berusaha dikawal oleh seniman setempat. Dua gaya drama tari Gambuh ini, Gambuh Pedungan (Denpasar) dan Gambuh Batuan (Gianyar), masih mencoba eksis di tengah ketakpedulian masyarakat Bali. Baik Gambuh gaya Pedungan maupun Gambuh gaya Batuan dianggap memiliki ciri dan identitas yang masih dianut oleh pendukungnya masing-masing. Di ISI Denpasar, kedua gaya ini wajib dipelajari oleh mahasiswa yang menerjuni seni tari.
Sebagai warisan kesenian kraton, pada dasarnya drama tari Gambuh adalah ungkapan seni yang serius dan rumit. Polanya ketat dan penyajiannya protokoler. Bobot artistiknya mencuat dari kompleksitasnya, baik koreografinya maupun komposisi musiknya. Elemen musik dan tari dalam gambuh sangat terikat. Setiap tokoh, di samping masing-masing memiliki tatanan tari tersendiri, harus mempergunakan bahasa Jawa Kuno dengan alunan retorika yang telah terpola juga. Setiap tokoh memiliki iringan musik tersendiri yang jelimet berliku-liku, rata-rata berukuran panjang. Beberapa suling panjang adalah instrumen utama dari ansambel gamelan Gambuh. Alat musik bambu ini bertugas membawakan seluruh melodi gending, baik tabuh instrumental maupun gending iringan tari. Untuk memainkan suling-suling panjang ini cukup sulit, diperlukan tehnik permainan nafas dan keterampilan bermain suling selain juga kepekaan musikalitas yang tinggi.


  • Drama Tari Wayang Wong Berumur 300 Tahun Lebih

Pementasan dramatari wayang wong, salah satu kesenian tradisional Bali, yang mempunyai unsur ritual dan emosional dalam kehidupan masyarakat Pulau Dewata,merupakan warisan sejak abad XVIII.
"Kedua unsur itu satu sama lain saling berkaitan, baik tari maupun instrumen pengiringnya (gamelan), sebagai ungkapan pengabdian yang tertinggi menghormati para leluhur," kata Ni Nyoman Kasih SST M.Si, dosen jurusan tari, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Minggu.
Ia melakukan penelitian dan pengkajian terhadap kesenian wayang wong atau wayang orang yang juga berkembang di sejumlah daerah di Nusantara.
Wayang wong merupakan satu cabang seni tari klasik dengan pelakunya melibatkan sejumlah seniman, yang menyuguhkan kolaborasi tari, tabuh, tembang dan drama.
Nyoman Kasih menjelaskan, pementasan wayang wong di Bali untuk melengkapi kegiatan ritual dalam agama Hindu yang dianut sebagian besar masyarakat setempat merupakan ungkapan bhakti dan "karma marga" untuk mencapai kesatuan dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Oleh sebab itu umat Hindu dalam menggelar kegiatan ritual berskala besar hingga saat ini masih mementaskan dramatari wayang wong. Pelaku dalam pementasan itu mengenakan topeng, berdialog dalam bahasa Jawa kuno (kawi).
Jenis kesenian, baik Wayang Wong Parwa maupun Wayang Wong Ramayana, hingga kini masih tergolong sakral, karena pementasannya khusus untuk kelengkapan upacara keagamaan.
Nyoman Kasih menambahkan, pementasan wayang wong mengandung arti simbolis, yakni makna filosofis tertentu.
Bahkan di Desa Mas, perkampungan seniman Ubud, Kabupaten Gianyar, pementasan wayang wong hingga kini dilakukan setiap enam bulan bertepatan dengan Hari Raya Kuningan, rangkaian Hari Raya Galungan guna memperingati kemenangan dharma (kebaikan) atas adharma (keburukan).
Hasil penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data dan observasi lapangan itu menunjukkan bahwa dramatari wayang wong berawal dari sekitar abad ke XVIII.
Pentas wayang wong di Desa Mas dengan upacara di Pura Taman Pule desa setempat mempunyai hubungan yang sangat erat, sehingga jenis kesenian itu dapat digolongkan sebagai tari wali (keagamaan).
Bentuk gerak dramatari wayang wong di Desa Mas kebanyakan berasal dari gerak tari gambuh, salah satu kesenian yang tergolong paling tua.
Instrumen pengiringnya berupa seperangkat gamelan antara lain dua buah kendang "kekrumpungan" (suara berbeda), empat buah gender wayang, sebuah kempur (kempul) dan satu tungguh (serangkaian) ceng-ceng.
Persepsi masyarakat Desa Mas terhadap keberadaan dramatari wayang wong sangat tinggi, sekaligus mempelajari dan melakoninya dengan baik dari satu generasi ke generasi berikutnya dan hingga kini kesenian tersebut dapat dilestarikan.
Masyarakat setempat sangat mendukung upaya pelestarian dramatari wayang wong dengan melatih anak-anak dan generasi muda serta adanya bantuan dalam bentuk peralatan maupun pembinaan dari Pemerintah Kabupaten Gianyar dan Pemprov Bali, tutur Ni Nyoman Kasih.

0 komentar:

Posting Komentar